Minggu, 07 Juli 2013

Semua ulama’ telah sepakat bahwa wanita yang sedang menyusui diperbolehkan tidak tidak berpuasa pada bulan romadhon dengan syarat ia mengkhawatirkan dirinya atau anaknya akan menjadi sakit atau bertambah parah sakit yang diderita, atau akan menimbulkan bahaya atau kematian. Kekhawatiran pada anak juga menjadi pertimbangan dikarenakan seorang anak bagaikan bagian dari anggota tubuh ibunya, karena itu belas kasihan pada anak seperti halnya belas kasihan pada dirinya sendiri.

Adapun ketentuan bagi wanita yang membatalkan puasa karena menyusui anaknya diperinci sebagai berikut;

1. Apabila wanita tersebut membatalkan puasanya karena mengkhawatirkan kondisinya sendiri, semisal khawatir akan sakit karena harus menyusui anaknya saat berpuasa,  maka wanita tersebut diwajibkan mengqodho’ puasa yang ditinggalkan tersebut. Dalilnya adalah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam;

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ المُسَافِرِ الصَّوْمَ، وَشَطْرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الحَامِلِ أَوِ المُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

“Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mewajibkan puasa atas musafir dan memberi keringanan separoh shalat untuknya juga memberi keringan bagi wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa" (Sunan Turmudzi, no.715)

2. Apabila wanita tersebut membatalkan puasanya karena mengkhawatirkan kondisi anaknya, semisal dikhawatirkan ASI yang keluar akan menjadi sedikit karena ia berpuasa maka wanita tersebut diwajibkan untuk mengqodho’ puasa yang ia tinggalkan dan ditambah dengan membayar kafaroh. Dalilnya adalah riwayat Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu;
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ}، قَالَ: «كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ، وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ، وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا، وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ سْكِينًا، وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا»، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا

“Dari Ibnu Abbas: WA 'ALALLADZII YUTHIIQUUNAHU FIDYATUN THA'AAMU MISKIIN (dan bagi orang yang berat menjalankanya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin), ia berkata; hal tersebut merupakan keringanan bagi laki-laki tua dan wanita tua, dan mereka -sementara kedua mampu melakukan puasa- agar berbuka dan memberi makan setiap hari satu orang miskin, dan keringanan bagi orang yang hamil dan menyusui apabila merasa khawatir. Abu Daud berkata; yaitu khawatir kepada anak mereka berdua, maka mereka berbuka dan memberi makan.” (Sunan Abu Dawud, no.2318)

Sedangkan pembayaran kafaroh dilakukan dengan bersedekah 1 mud (1 mud = 6 ons/ 679,79 gram) makan pokok yang umum didaerahnya pada tiap hari yang ditinggalkan kepada fakir miskin. Wallohu a’lam.


Referensi :
1. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 28  Hal : 54
2. Fathul Qorib, Hal : 141
3. Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 2  Hal : 94


Ibarot :
Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 28  Hal : 54
الفقهاء متفقون على أن الحامل والمرضع لهما أن تفطرا في رمضان، بشرط أن تخافا على أنفسهما أو على ولدهما المرض أو زيادته، أو الضرر أو الهلاك، فالولد من الحامل بمنزلة عضو منها، فالإشفاق عليه من ذلك كالإشفاق منه على بعض أعضائها

Fathul Qorib, Hal : 141
والحامل والمرضع إن خافتا على أنفسهما) ضررا يلحقهما بالصوم، كضرر المريض (أفطرتا، و) وجب (عليهما القضاء، وإن خافتا على أولادهما) أي إسقاط الولد في الحامل وقلة اللبن في المرضع (أفطرتا، و) وجب (عليهما القضاء) للإفطار (والكفارة) أيضا. والكفارة أن يخرج (عن كل يوم مد؛ وهو) كما سبق (رطل وثلث بالعراقي). ويعبر عنه بالبغدادي

Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 2  Hal : 94
الحامل والمرضع
إذا أفطرت الحامل والمرضع، فهي إما أن تفطر خوفا على نفسها، أو خوفا على طفلها
فإن أفطرت خوفا من حصول ضرر بالصوم على نفسها وجب عليها القضاء فقط قبل حلول شهر رمضان آخر. روى الترمذي (715) وأبو داود (2408) وغيرهما عن أنس الكعبي - رضي الله عنه - عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: إن الله تعالى وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة، وعن الحامل أو المرضع الصوم أي خفف بتقصير الصلاة، ورخص في الفطر مع القضاء

وإن أفطرت خوفا على طفلها، وذلك بأن تخاف الحامل من إسقاطه إن صامت، أو تخاف المرضع أن يقل لبنها فيهلك الولد إن صامت، وجب عليها والحالة هذه القضاء والتصدق بمد من غالب قوت البلد عن كل يوم أفطرته. ومثل هذه الصورة أن يفطر الصائم لإنقاذ مشرف على الهلاك، فيجب عليه مع القضاء التصدق بمد طعام. روى أبو داود (2318) عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: (وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين) البقرة 184. قال كانت رخصة للشيخ الكبير والمرأة الكبيرة، وهما يطيقان الصوم أن يفطرا ويطعما كل يوم مسكينا، والحبلى والمرضع إذا خافتا ـ يعني على أولادهما ـ أفطرتا وأطعمتا
Posted by Uswah On 9:52 AM No comments READ FULL POST

Selasa, 26 Maret 2013

Banyak wanita yang mengalami keputihan dalam jangka waktu yang panjang,sehingga para wanita pada umumnya merasa khawatir dengan "keputihan "tersebut.

Perlu kita ketahui,bahwa Keputihan Tidak termasuk haid. Cairan putih sebab keputihan hukumnya najis, karena keluar dari dalam ms V . Untuk masalah shalat bagi wanita yang menderita keputihan, apabila cairan itu keluar terus menerus seperti orang beser, maka berlaku hukum seperti orang yang beser.  Cara yang harus dilakukan adalah dengan mensucikan kemaluan/ms.V setelah itu disumbat dengan pembalut atau kapas. Barulah kemudian berwudlu dengan menyegerakan shalat. Penderita keputihan dan orang yang beser tidak boleh menunda-nunda shalat setelah berwudlu, kecuali untuk kemaslahatan shalat seperti menjawab adzan atau menunggu jamaah. 

Referensi:

Hasyiyah Jamal II hal. 149

( قَوْلُهُ وَرُطُوبَةٍ فَرْجٍ ) هِيَ مَاءٌ أَبْيَضُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْعَرَقِ وَمَحِلُّ ذَلِكَ إذَا خَرَجَتْ مِنْ مَحَلٍّ يَجِبُ غَسْلُهُ ، فَإِنْ خَرَجَتْ مِنْ مَحِلٍّ لَا يَجِبُ غَسْلُهُ فَهِيَ نَجِسَةٌ ؛ لِأَنَّهَا رُطُوبَةٌ جَوْفِيَّةٌ وَهِيَ إذَا خَرَجَتْ إلَى الظَّاهِرِ يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَإِذَا لَاقَاهَا شَيْءٌ مِنْ الطَّاهِرِ تَنَجَّسَ
 
(pernyataan cairan dalam kemaluan) yaitu cairan putih yang ambigu antara madzi dan keringat.
Titik tekan masalah ini, yaitu ketika cairan itu keluar dari tempatnya yang wajib membersihkannya.
Apabila cairan itu keluar dari tempat yang tidak wajib dibersihkan maka dihukumi najis, karena hal itu merupakan cairan dari dalam. Apabila cairan itu keluar dari anggota dzahir, maka dihukumi najis. Apabila sesuatu yang suci bersentuhan dengannya maka menjadi mutanajis.

Minhaj al Tullab I hal 26

والاستحاضة كسلس فلا تمنع ما يمنعه الحيض فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه فتعصبه بشرطهما فتطهر لكل فرض وقته وتبادر به ولا يضر تأخيرها لمصلحة كستر وانتظار جماعة

Istihadzah (darah penyakit) itu seperti orang yang beser, maka orang yang istihadzah tidak tercegah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang haid. Maka wajib bagi seorang yang istihadzah untuk mensucikan farjinya, menyumpal dan membalutnya sesuai dengan syarat-syaratnya, kemudian berwudlu. Hal ini wajib dilakukan setiap akan menjalankan shalat fardlu dan bersegera menjalankannya. Mengakhirkan shalat (setelah wudlu) diperboleh bila untuk kemaslahatan seperti menutup aurat atau menunggu jamaah.

Wallahu a'lam..
Posted by Uswah On 3:51 AM 13 comments READ FULL POST
1. Menurut fatwa syeh Al Qomath, seperti dinukil dalam kitab “ Talkhisul Murod Fi Fatawi Ibnu Ziyad “ diperbolehkan bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid.

2. Syekh Husain Ibrohim Al Maghrobi, seorang mufti madzhab maliki di Mekah dalam fatwa beliau yang termuat dalam kitab “ Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Ulama’ Al Haromain “ menegaskan bahwa penggunaan obat untuk mencegah datangnya haid atau meminimalisir haid selama tidak menyebabkan terputusnya keturunan ( tidak bisa hamil ). Kalau obat tersebut sampai menyebabkan terputusnya keturunan maka haram dikonsumsi.

3.  Darul Ifta’ Al Mishriyah ( MUI-nya Mesir ) Dalam fatwa nomor 1225, tanggal 05/09/2007  yang dikeluarkan tentang “ Hukum mengkonsumsi pil anti haid selama bulan romadhon “ menjelaskan sebagai berikut :

“ Adapun mengkonsumsi pil anti haid guna menunda siklus haid hingga setelah Ramadhan agar seorang wanita dapat berpuasa selama bulan Ramadhan tanpa terputus, maka hal itu diperbolehkan dalam syari’at dan puasanya sah.Seorang wanita boleh melakukan hal ini dengan syarat mendapatkan izin dari dokter yang menyatakan bahwa penggunaan pil anti haid tersebut tidak membahayakan kesehatannya, baik cepat atau lambat.Jika dokter menyatakan bahwa mengkonsumsi pil anti haid tersebut dapat membahayakan kesehatannya, maka hal itu diharamkan . Dalam kaidah syari’at ditegaskan, “ La Dhororo Wa La Dhiroro “ ( Tidak boleh merugikan diri sendiri dan tidak boleh merugikan orang lain ). Selain itu,  menjaga kesehatan tubuh adalah salah satu dari tujuan utama syari’at Islam. Meskipun demikian, penyerahan diri dan ketundukan seorang muslimah kepada kehendak dan takdir Alloh yang memberikankondisi haid padanya dan mewajibkannya tidak berpuasa ketika itu adalah lebih baik dan lebih berpahala “.

4. . Dalam kitab “ Al Fiqhu Alal Madzahib Al ‘Arba’ah “ juga dijelaskan bahwa penggunaan pil anti haid tersebut diharomkan jika memang membahayakan. Namun jika seorang wanita menggunakan pil tersebut lalu haidnya berhenti, maka masa terhentinya haid karena obat tersebut dianggap “ masa suci “.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Penggunaan obat anti haid bagi perempuan yang bertujuan menunda siklus haid, agar wanita tersebut dapat puasa sebulan lebih hukumnya haram jika memang obat tersebut membahayakan bagi dirinya atau menyebabkan tidak bisa hamil lagi.

 2. Sedangkan apabila tidak terdapat bahaya dalam penggunaannya hukumya khilaf :

  • Menurut Syekh Husain Ibrohim Al Maghrobi, hukumnya makruh ( Madzhab Maliki )
  • Menurut Syekh Al Qomath, hukumya boleh ( Madzhab Syafi'i )
  • Menurt fatwa Darul Ifta' Al Mishriyah, hukumnya boleh, namun lebih baik tidak dikonsumsi.

3. Hari- hari dimana wanita tersebut tidak mengeluarkan darah haid, disebabkan pil anti haid dihukumi masa suci.

Referensi :
1. Talkhishul Murod Fi Fatawi Ibn Ziyad, Hal : 247
2. Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Ulama’ Al Haromain, Hal : 30
3. Fatwa Darul Ifta’ Al Mishriyah, Nomor. 1225
4. Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba’ah, Juz : 1  Hal : 115

Ibarot :

Talkhishul Murod Fi Fatawi Ibn Ziyad, Hal : 247

وَفى فَتَاوى القماط ماحاصله جوازُ استعمال الدواء لمنع الحيض اهـ

Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Ulama’il Haromain, Hal : 30

إذا استعملت المرأة دواء لرفع دم الحيض أو تقليله فإنه يكره ما لم يلزم عليه قطع النسل أو قلته وإلا حرم. كما في حاشية الخرشي

Fatwa Darul Ifta’ Al Mishriyah, Nomor. 1225

حكم تناول المرأة عقاقير تمنع الدورة الشهرية ليتسنى لها الصيام

ورد من السيدة ف. ر . هل يجوز للمرأة تناول العقاقير لمنع نزول الدورة الشهرية ليتسنى لها الصيام في رمضان ؟
الجواب : أمانة الفتوى - الى أن قال -
أما استعمال العقاقير التى تؤخر الحيض إلى ما بعد رمضان والتى تتيح للنساء إتمام الشهر كله بغير انقطاع فلا مانع منه شرعاً، ويصح منها الصوم، ويجوز لها اللجوء إلى هذه الوسيلة بشرط أن يقرر الأطباء أن استعمال هذه الحبوب لا يترتب عليه ما يضر بصحة المرأة عاجلاً أو آجلاً، فإن ترتب على استعمالها ضرر فهى حرام شرعا, لأن من المقرر شرعا أنه لا ضرر ولا ضرار, وحفظ الصحة مقصد ضروري من مقاصد الشريعة الإسلامية, ومع أن استخدام هذه الوسيلة جائز شرعا إلا أن وقوف المرأة المسلمة مع مراد الله تعالى وخضوعها لما قدره الله عليها من الحيض ووجوب الإفطار أثناءه أثوب لها وأعظم أجرا

Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba’ah, Juz : 1  Hal : 115

أما أن تصوم الحيض بسبب دواء في غير موعده، فإن الظاهر عندهم أنه لا يسمى حيضاً، ولا تنقضي به عدتها وهذا بخلاف ما إذا استعملت دواء ينقطع به الحيض في غير وقته المعتاد، فإنه يعتبر طهراً، ويتنقضي به العدة، على أنه لا يجوز للمرأة أن تمنع حيضها، أو تستعجل إنزاله إذا كان ذلك يضر صحتها، لأن المحافظة على الصحة واجبة
Posted by Uswah On 3:48 AM No comments READ FULL POST
Pertanyaan:
 
Jika wanita hamil keguguran dibawah usia 3 bulan apakah wanita itu terkena hukum' nifas ?
Karena kan bs juga dibilang terlambat haid. Syukron..

Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Jawaban dari pertanyaan diatas diperinci sebagai berikut :

1. Jika bayi yang lahir tersebut sudah menampakkan sebagian penciptaan, seperti adanya jari atau yang lain, maka ulama' sepakat bahwa darah yang keluar setelah lahirnya bayi tersebut dihukumi darah nifas.

2. Jika belum nampak penciptaan, terdapat perselisihan pendapat dikalangan ulama' :
  • Pendapat pertama : Menurut madzhab Syafi'i, madzhab Maliki dan pendapat yang shohih dari madzhab Hanbali  meskipun yang keluar hanyalah segumpal daging atau segumpal darah, jika memang itu adalah permulaan dari penciptaan bayi, maka darah yang keluar sesudahnya dihukumi darah nifas.
  • Pendapat kedua : Menurut madzhab Hanafi dan sebagian riwayat dari madzhab Hanbali darah tersebut tidak dihukumi darah nifas.
Wa'llohu a'lam.

Referensi :
1. Al  Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 41  Hal : 14
2. Syarah Fathul Qodir Alal Hidayah, Juz : 1  Hal : 165
3. As Syarhul Kabir, Juz : 2  Hal : 474
4. Roudlotut Tholibin, Juz : 1  Hal : 174
5. Hasyiyata Qulyubi Wa Umairoh, Juz : 1 Hal : 124
6. Al Mughni, Juz : 1  Hal : 249


Ibarot :
Al  Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 41  Hal : 14
حكم السقط في النفاس
ذهب الفقهاء: إلى أن السقط الذي استبان بعض خلقه كأصبع وغيره ولد - تصير به المرأة نفساء؛ لأنه بدء خلق آدمي، وتصير الأمة أم ولد به إن ادعاه المولى، وكذلك تنقضي العدة وأما إذا لم يستبن شيء من خلقه فقد اختلف الفقهاء فيه على قولين:

القول الأول: للشافعية، إن المرأة إذا ألقت مضغة أو علقة خفيت على غير القوابل، وقال القوابل: إنه مبتدأ خلق آدمي - فالدم الموجود بعده نفاس.
وقال المالكية: لو ألقت دما اجتمع لا يذوب بصب الماء الحار عليه، تنقضي به العدة وما بعده نفاس

القول الثاني: وهو قول الحنفية، فقالوا: إنه إن لم يستبن من خلقه شيء فلا نفاس لها
وقال الحنابلة: يثبت حكم النفاس بوضع ما يتبين فيه خلق الإنسان على الصحيح من المذهب، ونص عليه أحمد، فلو وضعت علقة، أو مضغة لا تخطيط فيها - لم يثبت بذلك حكم النفاس، نص عليه وقدمه في الفروع، والمجد في شرحه وصححه، وابن تميم والفائق. وعنه يثبت - أي حكم النفاس - بمضغة، وعنه: وعلقة. وقيل: يثبت لها حكم النفساء إذا وضعته لأربعة أشهر
Syarah Fathul Qodir Alal Hidayah, Juz : 1  Hal : 165

 وَالسَّقْطُ الَّذِي اسْتَبَانَ بَعْضُ خَلْقِهِ وَلَدٌ ) حَتَّى تَصِيرَ الْمَرْأَةُ بِهِ نُفَسَاءَ وَتَصِيرُ الأَمَةُ أُمَّ وَلَدٍ بِهِ وَكَذَا الْعِدَّةُ تَنْقَضِي بِهِ
-----------
قَوْلُهُ وَالسَّقْطُ الَّذِي اسْتَبَانَ بَعْضَ خَلْقِهِ ) كَأُصْبُعٍ أَوْ ظُفْرٍ ( وَلَدٌ ) فَلَوْ لَمْ يَسْتَبِنْ مِنْهُ شَيْءٌ لَمْ يَكُنْ وَلَدًا فَإِنْ أَمْكَنَ جَعْلُهُ حَيْضًا بِأَنْ امْتَدَّ جَعْلُ إيَّاهُ وَإِلا فَاسْتِحَاضَة

As Syarhul Kabir, Juz : 2  Hal : 474
وَعِدَّةُ الْحَامِلِ ) حُرَّةً أَوْ أَمَةً ( فِي وَفَاةٍ أَوْ طَلاقٍ وَضْعُ حَمْلِهَا كُلِّهِ ) بَعْدَ الطَّلاقِ أَوْ الْوَفَاةِ وَلَوْ بِلَحْظَةٍ لا بَعْضِهِ وَاحِدًا كَانَ أَوْ مُتَعَدِّدًا , وَلِلزَّوْجِ رَجْعَتُهَا قَبْلَ خُرُوجِ بَاقِيهِ أَوْ الآخَرِ , وَهَذَا إذَا كَانَ الْوَلَدُ يَلْحَقُ بِصَاحِبِ الْعِدَّةِ فَلَوْ كَانَ مِنْ زِنًا فَلا بُدَّ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ وَعَشْرٍ فِي الْوَفَاةِ وَالأَقْرَاءِ فِي الطَّلاقِ إنْ وُضِعَتْ قَبْلَ مُضِيِّهَا , وَإِلا انْتَظَرَتْ الْوَضْعَ فَالْمَدَارُ عَلَى أَقْصَى الأَجَلَيْنِ وَتَحْتَسِبُ بِالأَشْهُرِ مِنْ يَوْمِ الْوَفَاةِ وَبِالأَقْرَاءِ مِنْ يَوْمِ الْوَضْعِ وَتَعُدُّ النِّفَاسَ قَرْءًا أَوَّلا فَلا تَحْتَسِبُ بِمَا حَاضَتْهُ قَبْلَ النِّفَاسِ زَمَنَ الْحَمْلِ ( وَإِنْ ) كَانَ الْحَمْلُ ( دَمًا اجْتَمَعَ ) وَعَلامَةُ كَوْنِهِ حَمْلا أَنَّهُ إذَا صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ الْحَارُّ لَمْ يَذُبْ

Roudlotut Tholibin, Juz : 1  Hal : 174
الْبَابُ الْخَامِسُ فِي النِّفَاسِ . أَكْثَرُهُ سِتُّونَ يَوْمًا عَلَى الْمَشْهُورِ . وَحَكَى أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ ، عَنِ الشَّافِعِيِّ : أَنَّهُ أَرْبَعُونَ . وَغَالِبُهُ : أَرْبَعُونَ . وَلا حَدَّ لأَقَلِّهِ ، بَلْ يَثْبُتُ حُكْمُ النِّفَاسِ لِمَا وَجَدَتْهُ ، وَإِنْ قَلَّ . وَقَالَ الْمُزَنِيُّ : أَقَلُّهُ : أَرْبَعَةُ أَيَّامٍ . وَسَوَاءٌ فِي حُكْمِ النِّفَاسِ ، كَانَ الْوَلَدُ كَامِلَ الْخِلْقَةِ أَوْ نَاقِصَهَا أَوْ مَيْتًا وَأَلْقَتْ مُضْغَةً أَوْ عَلَقَةً . وَقَالَ الْقَوَابِلُ : إِنَّهُ مُبْتَدَأُ خَلْقِ آدَمِيٍّ ، فَالدَّمُ الْمَوْجُودُ بَعْدَهُ نِفَاسٌ

Hasyiyata Qulyubi Wa Umairoh, Juz : 1 Hal : 124
قَوْلُ الْمَتْنِ: (النِّفَاسُ) هُوَ لُغَةً الْوِلَادَةُ. قَوْلُ الشَّارِحِ: (أَيْ الدَّمُ الَّذِي أَوَّلُهُ يَعْقُبُ الْوِلَادَةِ) مِثْلُهُ لَوْ وَلَدَتْ وَلَدًا جَافًّا ثُمَّ رَأَتْ الدَّمَ قَبْلَ خَمْسَةَ عَشَرَ فَإِنَّهَا نُفَسَاءُ مِنْ حِينِ الْوِلَادَةِ عَلَى الْأَصَحِّ، وَقَوْلُهُ: الْوِلَادَةُ، أَيْ وَلَوْ عَلَقَةً أَوْ مُضْغَةً

Al Mughni, Juz : 1  Hal : 249
فَصْلٌ : إذَا رَأَتْ الْمَرْأَةُ الدَّمَ بَعْدَ وَضْعِ شَيْءٍ يَتَبَيَّنُ فِيهِ خَلْقُ الإِنْسَانِ , فَهُوَ نِفَاسٌ . نَصَّ عَلَيْهِ وَإِنْ رَأَتْهُ بَعْدَ إلْقَاءِ نُطْفَةٍ أَوْ عَلَقَةٍ , فَلَيْسَ بِنِفَاسٍ . وَإِنْ كَانَ الْمُلْقَى بُضْعَةً لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ خَلْقِ الإِنْسَانِ , فَفِيهَا وَجْهَانِ : أَحَدُهُمَا , هُوَ نِفَاسٌ ; لأَنَّهُ بَدْءُ خَلْقِ آدَمِيٍّ , فَكَانَ نِفَاسًا , كَمَا لَوْ تَبَيَّنَ فِيهَا خَلْقُ آدَمِيٍّ . وَالثَّانِي , لَيْسَ بِنِفَاسٍ ; لأَنَّهُ لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيهَا خَلْقُ آدَمِيٍّ , فَأَشْبَهَتْ النُّطْفَةَ
Posted by Uswah On 3:46 AM No comments READ FULL POST
Pertanyaan :
1.Bagaimana hukumnya persalinan dengan cara operasi bedah sesar ?
2. Apakah diwajibkan bagi wanita tersebut untuk melakukan mandi wiladah setelah melakukan operasi ?
 3.Bagaimana status nifas wanita tersebut ?

Jawaban :
Jawaban dari tiga pertanyaan diatas adalah sebagai berikut :
Pertama, Operasi sesar adalah operasi yang bertujuan untuk mengeluarkan janin dari perut ibunya, baik itu dilakukan setelah janin tersebut sempurna penciptaannya atau sebelumnya.
Terdapat dua kondisi diperbolehkannya melakukan operasi sesar :
1. Dhorurot, yaitu keadaan dikhawatirkannya keselamatan ibu, janinnya atau keselamatan keduanya, seperti pada kondisi kehamilan diluar rahim, kematian ibu yang sedang mengandung dan tergoncangnya rahim.
Dalam kondisi seperti ini operasi cesar boleh dilakukan, bahkan wajib jika memang itumerupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bayi atau wanita yang mengandungnya.
2.  Hajat, yaitu keadaan dimana dokter merasa perlu untuk melakukan operasi yang disebabkan sulitnya melahirkan secara normal, dan akan menimbulkan bahaya yang menghawatirkan akan menyebabkan kematian bayi atau ibunya, seperti operasi yang dilakukan karena sempitnya rahim atau rahim sang ibu lemah.
Pada keadaan seperti ini para dokter lah yang memutuskan apakah melakukan operasi atau tidak, bukan atas permintaan wanita yang akan melahirkan atau suaminya yang menginginkan terhindar dari kesakitan saat melahirkan. Dokter yang memutuskan untuk melakukan operasi dengan mempertimbangkan kondisi wanita tersebut, apakah mampu untuk melahirkan secara normal atau tidak, selain itu dipertimbangkan juga tentang efek yang akan ditimbulkan, jika memang bahaya yang akan ditimbulkan diluar kemampuan wanita tersebut  atau akan membahayakan keselamatan janin maka diperbolehkan untuk melakukan operasi jika memang tak ada cara lain yang bisa dilakukan.


Kedua, Para Fuqoha’ dalam hal ini berbeda pendapat. Sebagian menggolongkan persalinan dengan jalan operasi sebagai wiladah, dengan demikian tetap wajib mandi wiladah. Sedangkan sebagian lagi yang lain, menganggapnya bukan wiladah, maka mandi wiladah tidak lagi menjadi sebuah kewajiban.

Ketiga, Darah yang keluar setelah melakukan kelahiran bayi dengan jalan operasi tersebut tidak termasuk darah nifas dan bukan pula darah haidl, maka tidak ada konsekuensi hukum apapun kecuali ia adalah sesuatu yang najis.

NB : Jawaban ini dinukil dari hasil keputusan bahtsul masai'il LBM Sumenep, Madura 
Referensi :
1.Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal : 154-158
2.Qutul Habib Al Ghorib, Hal : 25
3.Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 90
4. Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz : 1  Hal : 205
5. Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz : 1  Hal : 74
6.Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 14  Hal : 16
7. Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, Juz : 1  Hal : 121

Ibarot :
Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal : 154-158
المبحث الثالث في جراحة الولادة
وهي الجراحة التي يقصد منها إخراج الجنين من بطن أمه، سواء كان ذلك بعد اكتمال خلقه، أو قبله، ولا تخلو الحاجة الداعية إلى فعلها من حالتين

الحالة الأولى
أن تكون ضرورية، وهي الحالة التي يخشى فيها على حياة الأم، أو جنينها، أو هما معًا، ومن أمثلتها ما يلي:
(1) جراحة الحمل المنتبذ.
(2) جراحة استخراج الجنين الحي بعد وفاة أمه.
(3) الجراحة القيصرية في حال التمزق الرحمي
فهذه الحالات تعتبر فيها جراحة الولادة ضرورية، لأن المقصود منها إنقاذ حياة الأم، أو الجنين، أو هما معاً

ففي المثال الأول: يتكون الجنين خارج الرحم في قناة المبيض، ويسمى بالحمل المهاجر، أو القنوي، وهذا الموضع الذي تكون فيه الجنين يستحيل بقاؤه فيه حيًا، وغالبًا ما ينفجر في القناة التي بداخلها، وحينئذ تصبح حياة الأم مهددة بالخطر، فيرى الأطباء ضرورة إجراء الجراحة، واستخراجه قبل انفجاره، وذلك كله إنقاذًا لحياة الأم

وفي المثال الثاني: تموت الأم بعد اكتمال خلق الجنين، وحياته، فيضطر الأطباء إلى شق بطنها لاستخراج ذلك الجنين قبل موته.
وهذه الصورة ليست بحديثة بل هي صورة كانت موجودة من القدم وهي محل خلاف بين أهل العلم -رحمهم الله- سيأتي بيانه إن شاء الله تعالى في مباحث العمل الجراحي، وأنه لا حرج في فعل هذا النوع من الجراحة إنقاذًا لحياة الجنين

وفي المثال الثالث: يتعرض الرحم إلى التمزق الذي يهدد حياة الأم، وجنينها وذلك بعد اكتمال خلقه، فيضطر الأطباء إلى إجراء الجراحة واستخراج الجنين. حتى لا تتعرض الأم وجنينها للهلاك

فهذه ثلاث صور من صور جراحة الولادة الضرورية، الأولى قصد منها إنقاذ حياة الأم، والثانية قصد منها إنقاذ حياة الأثنين، والثالثة قصد منها إنقاذ حياتهما معًا

وهذا النوع من الجراحة يعتبر مشروعًا وجائزًا، نظرًا لما يشتمل عليه من إنقاذ النفس المحرمة الذي هو من أجلِّ ما يتقرب به إلى الله عز وجل، وهو داخل في عموم قوله سبحانه: {وَمَن أحْيَاهَا فَكَأنَّمَا أحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا} (1)، ولأنه كما جاز استئصال الداء الموجب للهلاك من جسم المريض كذلك يجوز استخراج الجنين إذا كان بقاؤه موجبًا لهلاك أمه، بجامع دفع الضرر في كل.
وكذلك شق بطن المرأة الحامل الميتة من أجل إنقاذ جنينها الحي، فكما يجوز شق البطن للعلاج والتداوي، كذلك يجوز شقها لإنقاذ النفس المحرمة، ولأن بقاءها في البطن بدون ذلك يعتبر ضررًا محضًا، فتشرع إزالته بالجراحة اللازمة للقاعدة الشرعية التي تقول: الضرر يزال

قال الإمام ابن حزم -رحمه الله-: "ولو ماتت امرأة حامل، والولد حي يتحرك قد تجاوز ستة أشهر فإنه يشق عن بطنها طولاً، ويخرج الولد، لقوله تعالى: {وَمَنْ أحْيَاهَا فَكَأنمَا أحْيَا الناسَ جَمِيعًا} ومن تركه عمدًا حتى يموت فهو قاتل نفس" (3) اهـ.
فاعتبر -رحمه الله- فعل هذا النوع من الجراحة فرضًا لازمًا على الطبيب إذا امتنع من فعله عمدًا كان قاتلاً، لامتناعه من فعل السبب الموجب للنجاة مع قدرته على فعله

ولا يشكل على القول بجواز الجراحة في الصورة الأولى ما تتضمنه من إتلاف الجنين وتعريضه للهلاك، وذلك لأن حياة الأم مهددة ببقائه، وبقاؤه في الغالب غير منته بسلامته وخروجه حيًا، ومن ثم كانت حياة الجنين موهومة، وحياة الأم متيقنة فلا يجوز تعريض الحياة المتيقنة للهلاك طلبًا لحياة موهومة، وجاز استخراج الجنين بالجراحة على هذا الوجه ارتكابًا لأخف الضررين للقاعدة الشرعية التي تقول: إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضرراً بارتكاب أخفهما
فالضرر المترتب على بقاء الجنين في هذه الصورة يعرض الأم والجنين للهلاك، بخلاف الضرر المترتب على استخراجه فإنه مختص بالجنين فهو أخفهما.
وينبغي على الأطباء أن يتقوا الله عز وجل، وأن يبذلوا كل ما في وسعهم لعلاج هذه الحالات بالوسائل التي تنتهي بسلامة الأم وجنينها، وألا يقدموا على فعل هذا النوع من الجراحة إلا إذا تعذرت تلك الوسائل، وتحققوا من أن بقاء الجنين مفض إلى هلاكه وأمه، أو غلب على ظنهم ذلك ... والله تعالى أعلم

الحالة الثانية
أن تكون حاجية: وهي الحالة التي يحتاجها الأطباء فيها إلى فعل الجراحة بسبب تعذر الولادة الطبيعية، وترتب الأضرار عليها إلى درجة لا تصل إلى مرتبة الخوف على الجنين أو أمه من الهلاك.
ومن أشهر أمثلتها: الجراحة القيصرية التي يلجأ إليها الأطباء عند خوفهم من حصول الضرر على الأم أو الجنين أو هما معًا، إذا خرج المولود بالطريقة المعتادة, وذلك بسبب وجود العوائق الموجبة لتلك الأضرار، ومن أمثلتها: ضيق عظام الحوض، أو تشوهها أو إصابتها ببعض الآفات المفصلية، بحيث يتعذر تمدد مفاصل الحوض.
أو يكون جدار الرحم ضعيفًا، ونحو ذلك من الأمور الموجبة للعدول عن الولادة الطبيعية دفعًا للضرر المترتب عليها
والحكم بالحاجة في هذا النوع من الجراحة راجع إلى تقدير الأطباء، فهم الذين يحكمون بوجودها، ولا يعد طلب المرأة أو زوجها مبررًا لفعل هذا النوع من الجراحة طلبًا للتخلص من آلام الولادة الطبيعية، بل ينبغي للطبيب أن يتقيد بشرط وجود الحاجة، وأن ينظر في حال المرأة وقدرتها على تحمل مشقة الولادة الطبيعية وكذلك ينظر في الآثار المترتبة على ذلك، فإن اشتملت على أضرار زائدة عن القدر المعتاد في النساء ووصلت إلى مقام يوجب الحوج والمشقة على المرأة، أو غلب على ظنه أنها تتسبب في حصول ضرر للجنين، فإنه حينئذ يجوز له العدول إلى الجراحة وفعلها، بشرط ألا يوجد بديل يمكن بواسطته دفع تلك الأضرار وإزالتها ... والله تعالى أعلم

Qutul Habib Al Ghorib, Hal : 25
ويجب الغسل على من ولدت من غير الطريق المعتاد، لثبوت أمية الولدمنه
Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 90
قوله ونحو ولادة ) ظاهره ولو من غير محلها المعتاد لانه أطلق فيه، وفصل فيما بعده  ع ن، وقيد إبن قاسم بكون الفرج منسدا
Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz : 1  Hal : 205
قال الشوبري فيما كتبه على المنهاج  ولو ولدت من غير طريقه المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما قالوه من ثبوت أمية الولدبه  ومما بحثه   م ر  فيما لوقال إن ولدت فأنت طالق فألقته من غير طريقه المعتاد حيث لم يقع، فليحرر، وقد يتجه عدم وجوب الغسل، لأن علته خروج المني، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الأصلي. وقد يفرق بينه وبين ما مر. إنتهى ما قاله  ق ل ( ألشهاب أحمد ألقليوبي )، أ ج  ( عطية الأجهوري ) . وقوله  وقد يفرق بينه أي بين عدم وجوب الغسل وبين ثبوت أمية الولد ووقوع الطلاق. وصورة الفرق أن أمية الولد منوطة بالولادة  وقدحصلت، ولو من غير طريقها المعتاد. ووجوب الغسل بخروج المني من طريقه ولم يوجد. قلت؛ وقد يرد الفرق، ويقال  بوجوب الغسل  بأنه إنما وجب هنا للولادة  لا  لخروج المني، بقيده الذي ذكره ، فالولادة غير خروج المني، والغسل يجب بكل منهما. فإذا كان الخارج منيا تقيد بمحله كما ذكر، والولادة  لا تتقيد, إذ المقصود خروج الولد من أي محل ، فليتأمل، ذكر ذلك  م د ( محمد المدابغي ). وعبارة الاطفيحي : وينبغي أن يأتي فيه ما تقدم من التفصيل في إنسداد الفرج بين الأصلي و العارض، فإن كان الإنسداد أصليا: قيل لها ولادة وكانت مو جبة للغسل ، و إلا فلا، لأن خروج  الولد من جنبها مثلا  مع  إنفتاح  فرجها  لا يسمى ولادة
Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz : 1  Hal : 74
ولو ولدت من غير الطريق المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا  مما بحثه الرملي فيما لو قال؛ إن ولدت فأنت طالق،  فولدت من غير طريقه المعتاد، وقال بعضهم : قد يتجه عدم الوجوب، لأن علته أن الولد مني منعقد، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الاصلي، ورد، بأن الولادة نفسها صارت موجبة للغسل، فهي غير خروج المني

Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 14  Hal : 16
الولادة بجرح في البطن
لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها - مثلا - وسال منها دم لا تكون نفساء، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة

Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, Juz : 1  Hal : 121
ولو شق بطن المرأة ، ولو خرج منها الولد، فإنها لاتكون نفساء
Posted by Uswah On 3:44 AM 2 comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube